Energi Krisis, Dompet Kritis, Pejabat Narsis: Mahasiswa Soroti Krisis Energi di Makassar

Makassar, Newskata.com — Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Universitas Wira Bhakti bersama Aliansi Mahasiswa STIEM Bongaya menyatakan sikap tegas terhadap persoalan krisis energi yang dinilai semakin membebani masyarakat di Kota Makassar.

Persoalan pemadaman listrik, ketersediaan dan distribusi bahan bakar minyak (BBM), serta LPG 3 kilogram menjadi sorotan utama dalam aksi tersebut. Mahasiswa menilai persoalan itu tidak boleh dipandang semata-mata sebagai persoalan teknis, karena berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi, mobilitas, serta daya beli masyarakat.

Dalam aksi tersebut, Aliansi Mahasiswa Universitas Wira Bhakti mengangkat grand isu:

“ENERGI KRISIS, DOMPET KRITIS, PEJABAT NARSIS.”

Presiden Mahasiswa Universitas Wira Bhakti, Arnold, menegaskan bahwa masyarakat berhak mendapatkan akses energi yang aman, tersedia, terjangkau, dan terdistribusi secara adil.

Menurutnya, pemadaman listrik yang terjadi secara bergilir serta persoalan distribusi BBM dan LPG 3 kilogram menunjukkan perlunya transparansi dan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola energi.

“Ketika rakyat masih diperhadapkan dengan krisis energi, yang secara sederhana merupakan bagian dari kebutuhan paling mendasar bagi masyarakat, maka dengan tegas kami mengatakan bahwa itu adalah bentuk kebobrokan pemerintah dalam mengelola ataupun memanajemen energi,” tegas Arnold dalam orasinya.

Ia kemudian melontarkan kritik keras kepada pemerintah terkait persoalan tersebut.

“Ketika rakyat krisis energi, Bahlil stop jadi menteri,” ujarnya di sela-sela orasi.

Sementara itu, Presiden Mahasiswa STIEM Bongaya, Adit, menyoroti pentingnya pembenahan tata kelola distribusi migas serta pengawasan yang lebih serius terhadap dugaan penyimpangan dalam distribusi BBM dan LPG 3 kilogram.

Aliansi Mahasiswa STIEM Bongaya mendesak aparat penegak hukum tidak berhenti pada persoalan di tingkat permukaan. Jika ditemukan indikasi pelanggaran, aparat diminta melakukan penyelidikan secara menyeluruh terhadap dugaan praktik mafia maupun jaringan distribusi ilegal yang berpotensi merugikan masyarakat.

Tuntutan Aliansi Mahasiswa Universitas Wira Bhakti

Atas persoalan tersebut, Aliansi Mahasiswa Universitas Wira Bhakti menyampaikan sejumlah tuntutan, yakni:

Menghentikan pemadaman listrik bergilir.
Membuka hasil pengawasan distribusi BBM dan LPG 3 kilogram kepada publik.
Menggugat dan menghentikan kriminalisasi terhadap masyarakat yang menyampaikan aspirasi.
Menjamin ketersediaan BBM bersubsidi secara merata dan tepat sasaran.
Melakukan audit menyeluruh terhadap distribusi LPG 3 kilogram, mulai dari penyalur hingga konsumen akhir.
Tuntutan Aliansi Mahasiswa STIEM Bongaya

Sementara itu, Aliansi Mahasiswa STIEM Bongaya menyampaikan tuntutan:

Mendesak Pertamina melakukan evaluasi dan pembenahan tata kelola distribusi migas.
Mendesak Polda Sulsel membongkar dugaan mafia BBM dan LPG 3 kilogram, mengusut jaringan yang terlibat, serta menindak tegas pihak yang terbukti melanggar hukum sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Mahasiswa menilai negara memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan kebutuhan energi masyarakat terpenuhi dengan baik. Energi merupakan kebutuhan dasar yang memiliki dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat sekaligus keberlangsungan roda perekonomian.

Karena itu, mahasiswa menegaskan bahwa transparansi, pengawasan, dan penegakan hukum harus menjadi bagian utama dalam menyelesaikan persoalan energi di Makassar.

Krisis energi, menurut mahasiswa, tidak boleh terus menjadi beban yang harus ditanggung oleh rakyat.

Aksi tersebut digelar oleh Aliansi Mahasiswa Universitas Wira Bhakti bersama Aliansi Mahasiswa STIEM Bongaya di Makassar, Senin, (14/9/2026)