Oleh: Muh. Izhar Attar Syach
Newskata.com – Setiap tanggal 17 Agustus, lapangan-lapangan di seluruh Indonesia berubah menjadi panggung. Panggung untuk merayakan satu kata yang paling mahal harganya: merdeka.
Kita berkumpul, menyanyikan Indonesia Raya, mengibarkan Merah Putih. Secara simbolik, semuanya tampak sempurna. Namun, jika kita jujur dan mau menatap lebih dalam, masih ada retakan kecil yang terus kita warisi. Retakan itu bernama feodalisme.
Coba perhatikan baik-baik pemandangan dalam upacara kita.
Di satu sisi, ada tenda putih yang rapi, kursi, kipas, dan air mineral. Di dalamnya duduk para tamu undangan.
Di sisi lain, ada lapangan terbuka. Ada barisan yang berdiri tegak di bawah terik matahari. Ada keringat yang menetes di pelipis anak-anak sekolah, ASN, dan masyarakat.
Langitnya sama. Benderanya sama. Lagu kebangsaannya juga sama. Tetapi rasanya berbeda.
Ini bukan soal siapa yang lebih kuat menahan panas. Ini soal simbol.
Dalam sosiologi, kondisi semacam ini dapat dibaca sebagai simbol status—cara paling sederhana untuk menunjukkan siapa yang dianggap “di atas” dan siapa yang ditempatkan “di bawah”, tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun.
Dulu, pada zaman kerajaan, polanya kurang lebih seperti ini. Raja duduk di pendopo, sementara rakyat berdiri di halaman. Bukan karena rakyat lebih tahan banting, melainkan karena ada tembok tak kasatmata bernama kasta dan kekuasaan.
Hari ini kita telah 81 tahun merdeka. UUD 1945, Pasal 27 Ayat (1), jelas menyatakan:
“Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan.”
Sumpah Pemuda 1928 pun telah menegaskan:
“Satu Tanah Air, Satu Bangsa, Satu Bahasa.”
Lalu, mengapa pada hari ketika kita memperingati lepasnya rantai penjajahan, kita masih mempraktikkan pemisahan?
Bung Hatta pernah mengingatkan bahwa Indonesia merdeka bukan untuk membuat raja-raja baru. Namun tanpa sadar, kita justru berpotensi menciptakan “raja-raja baru” dalam bentuk yang berbeda.
Bukan dengan mahkota, melainkan dengan tenda, kursi, dan berbagai keistimewaan.
Bendera Merah Putih tidak pernah bertanya siapa kita. Ia berkibar sama untuk jenderal maupun siswa, untuk bupati maupun tukang sapu. Ia tidak memiliki zona khusus.
Lalu, mengapa cara kita menghormatinya masih dibagi-bagi?
Upacara 17 Agustus bukan sekadar seremoni. Ia adalah kelas kebangsaan terbesar dan paling masif yang disaksikan oleh jutaan orang.
Dan apa yang dipelajari generasi kita di kelas itu?
Mereka belajar bahwa “merdeka” berarti sebagian orang boleh berteduh, sementara sebagian lainnya harus bertahan di bawah matahari.
Mereka belajar bahwa “persatuan” ternyata memiliki dua tempat duduk.
Mereka belajar bahwa pengorbanan para pahlawan yang berkeringat dan berdarah dapat dikenang dari tempat yang paling nyaman.
Jika hal ini terus terjadi, kita sedang melestarikan mental feodal dengan kemasan modern. Kita sedang mengajarkan bahwa jabatan lebih tinggi daripada nilai kemanusiaan.
Saya tidak anti-tenda. Saya memahami bahwa ada pertimbangan protokol, keamanan, kesehatan, dan kebutuhan lainnya. Kritik ini bukan untuk menyalahkan siapa pun.
Kritik ini adalah ajakan untuk berpikir: adakah cara yang lebih sesuai dengan semangat kemerdekaan?
Ada tiga opsi sederhana.
Pertama, bentangkan satu tenda besar untuk semua.
Kedua, persingkat durasi upacara, tetap khidmat, dan biarkan semua merasakan kondisi yang relatif sama.
Ketiga, buat “tahun giliran”. Tahun ini, misalnya, giliran pejabat merasakan panasnya lapangan. Tahun berikutnya, gunakan konsep yang berbeda.
Intinya bukan sekadar soal panas atau teduh. Intinya adalah pesan kesetaraan yang kita wariskan kepada generasi berikutnya.
Revolusi terbesar sebuah bangsa bukan sekadar mengganti pemimpin, melainkan mengganti cara berpikir.
Kemerdekaan bukan hanya bebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga berarti membebaskan diri dari mentalitas “saya lebih tinggi, kamu lebih rendah.”
Selama kita masih membagi upacara menjadi dua zona yang secara simbolik menunjukkan perbedaan kedudukan, selama itu pula teriakan “MERDEKA!” kita patut dipertanyakan kembali.
Mari kita buat upacara tahun depan berbeda.
Upacara yang semua orangnya berkeringat. Atau upacara yang semua orangnya berteduh.
Karena hanya dengan begitu, ketika kita berdiri di bawah langit yang sama dan di bawah bendera yang sama, kita benar-benar dapat merasakan bahwa kita adalah bangsa yang merdeka.
Merdeka!
