Newskata- MAKASSAR – Di tanah ini, kita tidak membutakan mata dari kenyataan, namun kita juga tak kehilangan akal untuk membedakan mana yang patut dihargai dan mana yang tegas ditolak. Pendirian itu ditegaskan dengan tenang namun berwibawa oleh Ketua Internal Angkatan Muda Islam Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, Safaruddin—yang akrab disapa Safar—tanpa ragu sedikit pun.

“Kami bukan menutup mata bahwa hal itu ada. Kami melihatnya, kami mengakui ia terjadi. Namun ingatlah baik-baik: mengakui sesuatu itu ada, sama sekali bukan berarti kita membenarkannya, memuliakannya, apalagi menjadikannya teladan,” ucap Safar membuka jalan pikirnya yang jernih.

“Secara nalar yang paling sederhana: kita tahu penyakit ada di dunia ini, tapi tak pernah kita sebut penyakit itu sehat. Kita tahu kejahatan nyata adanya, tapi tak pernah kita angkat kejahatan itu sebagai kebaikan. Begitu pula hal ini—kita tahu perilaku itu ada, tapi kita tak akan pernah menelan begitu saja agar disebut wajar, apalagi menyamainya sebagai hak yang setara dengan tatanan hidup yang lurus,” tambahnya dengan logika yang tak terbantahkan.

Dengan nada yang menyisipkan ketajaman sarkas berkelas, ia menyambung: “Aneh rasanya, ada pihak yang berteriak paling keras soal kebebasan, tapi lupa bahwa kebebasan itu berakhir di tempat ia mulai merusak orang lain. Mereka menyamakan perbedaan suku, perbedaan keyakinan—yang adalah anugerah pemberian Tuhan sejak lahir—dengan perilaku yang jelas melenceng dari fitrah manusia, akal sehat, serta ajaran luhur mana pun di dunia ini. Apakah itu cara berpikir, atau sekadar memutarbalikkan kata agar terlihat benar?”

“Kami dengan lapang dada menerima segala perbedaan yang ditetapkan Tuhan, kami menghormati keragaman yang melekat pada setiap orang sejak lahir. Tapi ingat pesan ini takkan berubah: kami menerima perbedaan, tapi kami sama sekali tidak menerima penyimpangan seksual,” tegasnya lurus ke depan tanpa memberi celah tawar-menawar.

“Garis batas kita sudah terlukis jelas. Hal itu bertentangan dengan akal sehat, melanggar ajaran agama, dan melukai jati diri serta tata luhur yang diwariskan nenek moyang kita. Kami akan menegakkan pendirian ini sampai ke akar paling bawah, tak akan memberi ruang sekecil apa pun untuk ia tumbuh subur di tanah kelahiran kita,” ujarnya tegas.

Bagi Safar, sikap ini bukan kebencian, melainkan tanggung jawab besar. “Kita hidup di atas nilai yang lurus. Jika yang melenceng disebut lurus, yang bengkok disebut tegak, maka apa lagi yang tersisa dari kebenaran? Penyimpangan semacam itu merusak sendi keluarga, memutarbalikkan ukuran baik-buruk, dan membawa bahaya besar bagi masa depan anak cucu kita.”

“Kami tak ikut memutarbalikkan fakta hanya demi dianggap modern atau disebut ramah. Kita cukup dewasa untuk membedakan: mana yang berhak dihargai keberadaannya, dan mana yang harus tetap kita tegur demi kebaikan bersama.”

Di penghujung pernyataannya, ia menutup dengan kalimat yang memancarkan keteguhan hati pemimpin: “Biarlah pihak lain memilih jalan mereka. Di Sulawesi Selatan ini, pendirian kita takkan goyah: kita mengakui hal itu ada, tapi tak akan pernah diam membiarkannya dianggap benar. Kita merapatkan barisan bersama tokoh agama, tokoh adat, pemerintah, dan seluruh elemen masyarakat, menjaga tanah ini tetap mulia, tertib, dan menjunjung tinggi kehormatan bersama. Kita bersatu menjaga yang benar, kita bersatu menolak yang keliru—bukan karena membenci sesama, tapi karena kita mencintai kebenaran dan ingin menjaga kemuliaan tanah ini tetap terjaga selamanya.”

By admin