Newskata-LUWU UTARA– Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kabupaten Luwu Utara memaksa warga mengantri panjang di SPBU. Karena distribusi tidak teratur dan antrean memakan waktu, sebagian masyarakat terpaksa membeli di pengecer dengan harga jauh lebih tinggi.
Muhammad Baso Ramdhan, mahasiswa asal Bone Luwu Utara, menyoroti kondisi ini sebagai bentuk kelalaian dalam tata kelola distribusi BBM.
“Kami melihat masyarakat di Bone-Bone, Masamba, hingga kecamatan lain harus antre sejak pagi. Ini sangat menyita waktu dan tenaga. Pada akhirnya banyak yang terpaksa beli eceran dengan harga mahal,” ujar Ramdhan, Senin 20 Juli 2026.
Ia mendesak Pemerintah Daerah Luwu Utara segera hadir dan mencari solusi konkret. Penegakan aturan juga diminta adil, tidak hanya menyasar pengecer kecil.
“Kami minta Pemda Luwu Utara jangan tebang pilih. Tertibkan dari hulu sampai hilir. Distributor, SPBU, sampai pengecer harus diawasi. Tujuannya satu, agar BBM bersubsidi benar-benar sampai ke masyarakat yang berhak,” tegasnya.
Kami mengusulkan 3 langkah mendesak:
1. *Evaluasi kuota dan jadwal distribusi BBM* agar merata di seluruh SPBU Luwu Utara
2. *Buka posko pengaduan* agar masyarakat mudah melapor
3. *Pengawasan bersama* Pemda, Pertamina, dan aparat agar distribusi transparan dan akuntabel
“BBM adalah kebutuhan dasar rakyat. Petani, nelayan, UMKM semua terdampak. Kami percaya Pemda punya komitmen. Segera ambil langkah nyata agar masyarakat tidak lagi kesulitan,” tutup Ramdhan.
