Oleh : @rizqahfattah

Newskata.com – Ada masa ketika menjadi aktivis mahasiswa bukan sekadar identitas, melainkan cara memandang dunia. Dengan nalar yang terus diasah, saya belajar mengkritisi arah politik pemerintahan, menyuarakan kegelisahan, dan memperjuangkan apa yang saya yakini sebagai kebenaran. Barangkali seluruh tenaga, waktu, dan pikiran pernah saya kerahkan untuk itu. Di setiap forum, saya berusaha membuka mata dan telinga kader-kader agar tidak kehilangan kepekaan terhadap realitas yang sedang berlangsung. Namun waktu mengajarkan bahwa setiap perjuangan memiliki fasenya.

Sampai pada titik ini, bukan berarti saya telah menjadi pesimis. Saya hanya menyadari bahwa setiap generasi memiliki musim perjuangannya sendiri. Hari ini, saya melihat adik-adik telah jauh lebih layak mengambil ruang itu. Bara semangat yang dulu saya genggam, kini menyala di tangan mereka. Dan saya percaya, api yang terus berpindah tidak pernah benar-benar padam.

Tidak lagi membahas, memosting atau membagikan isu-isu politik bukan berarti saya telah buta terhadap politik. Diam tidak selalu lahir dari ketidaktahuan, terkadang ia lahir dari luka yang terlalu lama dipeluk. Barangkali patah hati saya terhadap para pemimpin negeri ini telah begitu dalam, hingga tak ada lagi kata-kata yang sanggup terucap disebabkan menampung banyak kekecewaan. Maka, apa yang dulu saya suarakan dengan lantang, kini saya titipkan kepada mereka yang masih memiliki tenaga, keberanian, dan harapan untuk terus berdiri di garis depan.

Sementara saya memilih menata kembali kehidupan. Bukan karena menyerah, melainkan karena ada pertempuran yang juga harus dimenangkan di dalam diri sendiri. Saya sedang belajar berdiri kokoh meskipun belum sepenuhnya utuh. Sebab saya percaya, manusia tidak selalu harus bertumbuh ke atas agar terlihat tinggi, kadang ia perlu bertumbuh ke dalam agar akarnya semakin kuat.

Namun semakin jauh melangkah, saya menyadari bahwa tantangan terbesar bukan hanya tentang berani melawan kekuasaan. Tantangan yang lebih berat justru muncul ketika suatu saat berada di dekat kekuasaan itu sendiri. Sebab arus yang deras tidak selalu datang dalam bentuk ancaman, kadang ia hadir sebagai kenyamanan, pujian, jabatan, dan pengaruh yang perlahan mengikis kewarasan tanpa disadari.

Melawan arus ternyata jauh lebih mudah diucapkan daripada dijalani. Nyatanya, tidak semua orang mampu tetap berdiri ketika derasnya arus mengajak untuk ikut hanyut. Lalu saya bertanya kepada diri sendiri, apakah kelak saya benar-benar mampu? Mampukah tetap menjaga nurani ketika kuasa menawarkan begitu banyak kemudahan? Mampukah tetap berpihak kepada kebenaran ketika suara hati mulai ditawar oleh kepentingan?

Pertanyaan-pertanyaan itu membawa saya masuk lebih jauh ke dalam diri. Beribu pengalaman kehidupan mengajarkan bahwa manusia tidak hanya diuji oleh kesulitan, tetapi juga oleh kesempatan. Kekuasaan selalu memiliki cara yang sangat halus untuk meninabobokan hati. Ia tidak selalu mengubah seseorang dalam semalam, melainkan sedikit demi sedikit, hingga batas antara idealisme dan kepentingan menjadi semakin memudar. Nyaris, saya pun pernah merasakan bagaimana pesonanya mampu menggoyahkan kewarasan. Ia lebih sering datang sebagai bisikan yang lembut, menawarkan kenyamanan, pujian, dan rasa memiliki kendali. Di situlah saya belajar bahwa menjaga nurani ternyata jauh lebih sulit daripada memenangkan perdebatan.

Mungkin karena itulah, hari ini saya lebih banyak memohon kepada Tuhan agar diberi hati yang tetap hidup. Karena kehilangan jabatan tidak seberapa dibanding kehilangan nurani. Dan kehilangan pengaruh tidak seberapa dibanding kehilangan arah menuju-Nya.

Tidak berada di ruang-ruang kuasa yang mampu mengubah arah kebijakan. Suara yang mungkin tak lagi menggema di mimbar-mimbar diskusi. Namun saya masih memiliki satu ruang yang tak pernah kehilangan maknanya, ruang untuk bersujud. Di sanalah saya menitipkan kegelisahan tanpa harus menjadikannya topeng perjuangan, merapal doa-doa yang semoga menembus langit.

Pandangan subjektif saya, Politik bukan hanya soal perebutan kekuasaan atau kerasnya perdebatan. Politik juga menyangkut tanggung jawab moral untuk tidak ikut menambah kerusakan yang telah begitu banyak diciptakan oleh manusia. Sebagaimana Tuhan mengingatkan bahwa kerusakan di bumi merupakan akibat dari ulah tangan manusia sendiri, setiap orang memiliki pilihan, menjadi bagian dari penyebab kerusakan atau menjadi bagian dari mereka yang berusaha menjaganya. Karena kerusakan ini telah dipastikan entitasnya hingga hari akhir.

Mungkin tidak semua orang ditakdirkan berada di ruang kuasa. Namun setiap orang tetap memiliki ruang untuk berikhtiar. Sebagian berjuang melalui gagasan, sebagian melalui tindakan, dan sebagian lagi melalui doa. Selama semuanya berangkat dari niat menjaga kemaslahatan, setiap bentuk perjuangan tetap memiliki maknanya sendiri.

Pada akhirnya, tidak ada perjuangan yang benar-benar selesai di dunia. Jabatan akan ditinggalkan, kekuasaan akan berganti, tepuk tangan akan mereda, dan nama perlahan dilupakan. Yang tersisa hanyalah amal yang dibawa pulang. Barangkali, perjuangan terbesar bukan sekadar memenangkan ruang-ruang politik, melainkan mempersiapkan kepulangan dengan husnul khatimah. Karena kemenangan yang sesungguhnya bukanlah ketika berhasil mengubah dunia, melainkan ketika Tuhan berkenan menerima kepulangan kita dalam keadaan beriman, menjaga amanah, dan tidak menjadi bagian dari mereka yang menebarkan kerusakan di muka bumi (Teruntuk yang bergetar hatinya dan masih yakin akan iman).