Newskata– Makassar,14 Juli 2026– Siang menyengat di sepanjang Jalan Faisal, bukan hanya panas matahari yang terasa, melainkan juga geram yang meluap dari dada warga. Berjam-jam antre di pompa bensin, berpindah dari satu stasiun ke stasiun lain demi setetes bahan bakar, kini menjadi pemandangan sehari-hari yang menyakitkan di Tanah Daeng.
Di tengah kepungan keluhan itu, Abdul Faisal, Dewan Komando GEPMAR (Gerakan Pemuda Mahasiswa Makassar), menyampaikan pernyataan tegas yang tak bisa ditawar. Organisasi pemuda ini menetapkan langkah nyata: Unjuk rasa besar akan digelar tanggal 17 Juli 2026, dan jika belum ada tanggapan serius terkait kelangkaan BBM serta penolakan terhadap Bahlil sebagai Menteri ESDM, aksi lanjutan yang lebih luas akan kembali digelar tanggal 18 Juli 2026.
Berikut laporan lengkap pernyataan tajam Abdul Faisal:
“Mereka bilang stok aman, tapi di sini BBM lebih susah didapat daripada keadilan!”
“Lihatlah sekeliling jalanan Makassar ini,” ujar Abdul Faisal dengan nada tinggi namun tenang, saat ditemui tim NEWSKATA. “Di Jakarta, di meja rapat menteri, mereka berbicara penuh percaya diri: stok nasional melimpah, pasokan terjamin, tidak ada masalah. Sarkasnya begini: mungkin benar BBM itu melimpah – tapi hanya di atas kertas laporan, dan di dalam janji manis yang tak pernah menyentuh tanah kami.”
“Coba tanya ibu-ibu yang harus mengantar anak sekolah dengan berjalan kaki karena motor tak bertenaga. Tanya pedagang pasar yang harus memikul dagangan sendiri karena tak sanggup bayar angkutan. Tanya pemuda yang hendak berbakti untuk daerah, tapi terhalang karena kendaraan mogok di tengah jalan. Bagi kami warga Makassar, BBM sekarang barang langka, lebih sulit dicari daripada janji yang ditepati pemerintah!” tambahnya tajam.
“Menolak Bahlil: Bukan sekadar nama, tapi sikap yang memandang sebelah mata daerah!”
Terkait penolakan tegas GEPMAR terhadap Bahlil sebagai Menteri ESDM, Abdul Faisal tak bertele-tele:
“Kami tidak menolak sembarangan. Sejak menjabat, pernahkah beliau turun langsung ke pompa bensin pinggiran kota di Makassar? Pernahkah beliau melihat antrean panjang ini dengan mata kepala sendiri? Atau sekadar berkomunikasi dengan kami yang tinggal di ujung Sulawesi? Sejauh ini, tak ada satu pun.”
“Kalau seorang pemimpin bahkan tak peduli apakah rakyatnya bisa bergerak atau tidak, apakah dia layak mengelola sumber energi seluruh negeri? Kami tak butuh menteri yang pandai berpidato di layar kaca. Kami butuh pemimpin yang paham: di Tanah Daeng ini, BBM bukan kemewahan – ini napas untuk bertahan hidup. Kalau tak sanggup mengurus hal paling dasar ini, mundur saja! Jangan biarkan jabatanmu menyusahkan kami semua!” serunya.
“Syarat kami jelas: Tanggapi sebelum 17 Juli, atau hadapi suara kami di jalan!”
Abdul Faisal menegaskan dua tuntutan utama yang tak bisa ditawar sebelum aksi digelar:
1. Segera atasi kelangkaan BBM di seluruh Makassar dan Sulawesi Selatan tanpa alasan berbelit-belit.
2. Tarik pencalonan atau ganti Menteri ESDM dengan sosok yang benar-benar peduli kesejahteraan daerah.
“Kalau sampai tanggal 17 Juli belum ada langkah nyata? Kami turun ke jalan. Kalau sampai tanggal 18 Juli masih sama saja? Jangan kaget kalau seluruh pemuda Makassar bergerak serentak, sampai suara kami tak bisa lagi diabaikan siapa pun. Kami bergerak damai, tapi tekad kami sekeras karang pesisir Makassar – tak akan runtuh cuma karena janji kosong!” tegasnya.
Catatan Laporan NEWSKATA:
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan resmi dari Kementerian ESDM maupun Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan terkait tuntutan dan jadwal aksi GEPMAR. Kelangkaan BBM masih dirasakan di sebagian besar wilayah Makassar, dengan antrean yang semakin memanjang setiap harinya.
